Meja piket di Polsek Warujayeng sepi, tetapi bukan berarti tidak ada tugas yang dijalankan. BRIPKA Mahendra Aris. S memilih untuk meninggalkan kursinya dan berjalan ke Desa Kedungombo, Nganjuk, menyambangi kandang-kandang kambing warga binaannya. Di sana, ia tidak berwajah tegang, melainkan tersenyum sambil memeriksa kesehatan ternak, mengecek kondisi kandang, dan mengobrol santai tentang pakan dan kebersihan. Inilah bentuk nyata pengabdian yang tidak pernah tercantum dalam job desk kepolisian konvensional: menjadi penggerak ketahanan pangan dari tingkat paling bawah. Pemanfaatan lahan pekarangan untuk ternak kambing telah menjadi kegiatan andalan warga setempat untuk memenuhi kebutuhan protein hewani sekaligus menambah pundi-pundi keluarga.
Kapolres Nganjuk, AKBP Suria Miftah Irawan, memuji langkah anggotanya ini sebagai contoh ideal bagaimana Polri harus hadir di tengah masyarakat. Ia menjelaskan bahwa sektor peternakan rakyat memegang peran vital dalam program swasembada pangan nasional, sehingga pendampingan dan perhatian bersama mutlak diperlukan. “Polri melalui Bhabinkamtibmas terus hadir untuk memberikan motivasi dan pendampingan agar peternakan dan pertanian warga dapat berkembang optimal dan berkelanjutan,” ujarnya. Pernyataan ini bukan sekadar slogan, tetapi diwujudkan melalui langkah-langkah kecil seperti pemantauan kandang kambing oleh BRIPKA Mahendra yang dilakukan secara konsisten setiap minggu.
Selama berada di lokasi, BRIPKA Mahendra juga mengajak warga untuk berpikir lebih jauh, bahwa kambing yang mereka pelihara tidak hanya untuk konsumsi sendiri atau dijual saat butuh uang. Lebih dari itu, peternakan kambing bisa menjadi sistem ekonomi sirkular di tingkat desa, di mana kotoran kambing diolah menjadi pupuk untuk tanaman pekarangan, dan sisa tanaman menjadi pakan kambing. Kompol H. Ahmad Junaedi, Kapolsek Warujayeng, menegaskan bahwa inovasi-inovasi kecil seperti inilah yang akan terus didukung oleh jajarannya. Ia berharap masyarakat semakin semangat memanfaatkan lahan pekarangan untuk kegiatan peternakan produktif karena dampaknya langsung dirasakan oleh kesejahteraan keluarga.
Kegiatan pemantauan yang tampak sederhana ini menyimpan makna besar: bahwa ketahanan pangan tidak selalu dibangun dengan proyek raksasa, tetapi juga dengan sentuhan personal seorang Bhabin kepada warganya. Ketika seorang polisi bersedia berlutut di samping kandang kambing, menanyakan kesehatan ternak, dan mendiskusikan pakan yang lebih murah, maka bangunan ketahanan pangan nasional semakin kokoh dari dasar. Desa Kedungombo mungkin hanya satu titik di peta Nganjuk, tetapi semangat yang ditularkan BRIPKA Mahendra bisa menyebar ke segala penjuru. Dari kandang ke kandang, dari desa ke desa, ketahanan pangan adalah gerakan bersama, dan Bhabin adalah salah satu penggerak utamanya.(Avs)
.jpeg)
