Biasanya, perayaan Hari Bhayangkara identik dengan gemerlap atraksi. Namun Polres Nganjuk memilih jalur sunyi yang justru mengguncang batin. Dipimpin langsung oleh Kapolres AKBP Suria Miftah Irawan dan Ketua Bhayangkari Ny. Raisha Suria Miftah, kegiatan anjangsana dilaksanakan pada Jumat (5/6/2026). Targetnya adalah anggota aktif dan purnawirawan yang terbaring karena sakit menahun, serta para Warakawuri yang selama ini mungkin luput dari perhatian.
Rombongan tidak membawa kamera berjejer atau orasi panjang. Mereka masuk ke rumah-rumah sederhana, duduk bersila jika perlu, lalu menyerahkan bantuan sembako dengan tangan kanan. Kapolres dengan suara penuh keyakinan mengatakan bahwa dukungan moril adalah inti dari kunjungan ini. "Kami ingin anggota yang sedang sakit tetap kuat, optimis, dan tidak merasa sendiri," ucapnya. Kata-kata itu seperti oase di tengah padang kering keputusasaan.
Salah satu momen yang paling membekas adalah saat AIPTU April Iswandono di Desa Kwagean, Loceret, berusaha bangkit dari tempat tidurnya untuk menyambut Kapolres. Ia dicegah, lalu didudukkan kembali dengan lembut. "Saya sangat bersyukur dan merasa dihargai," katanya dengan suara bergetar. Ny. Raisha Suria Miftah yang hadir turut menambahkan bahwa keluarga pendamping juga harus tetap sabar, karena perjuangan melawan penyakit adalah medan perang yang paling melelahkan.
Ketika senja mulai turun di Nganjuk, rombongan menyudahi kunjungan. Namun getaran haru itu masih terasa kuat. Anjangsana ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan sebuah deklarasi bahwa Polres Nganjuk adalah institusi yang humanis. Mereka tidak hanya melindungi masyarakat luas, tetapi juga merangkul keluarganya sendiri yang sedang jatuh. Itulah makna terdalam dari Hari Bhayangkara yang jarang orang ceritakan.(Avs)
.jpeg)
.jpeg)