Nganjuk- Banyak pemohon SIM berpikir bahwa urusan mereka dengan polisi selesai setelah formulir terisi dan foto diambil, tetapi Satlantas Polres Nganjuk memiliki cara pandang berbeda. Pada Selasa (30/6/2026), Aipda Andik Sujatmiko membuktikan bahwa pelayanan sejati dimulai justru ketika peserta memasuki zona ujian, melalui kursus singkat yang menggugah kesadaran. Ia mengajak para pemohon untuk tidak melihat ujian sebagai eksekusi, melainkan sebagai kelanjutan dari proses belajar yang sudah dimulai sejak di ruang pendaftaran. Inilah yang disebut pelayanan holistik, di mana petugas tidak hanya melayani administrasi, tetapi juga mendampingi masyarakat hingga garis akhir.
Nganjuk- Dengan penuh semangat, Aipda Andik memaparkan bahwa setiap gerakan dalam ujian praktik memiliki filosofi keselamatan yang mendalam, mulai dari cara memegang setir hingga kebiasaan mengecek spion sebelum tancap gas. Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan menyatakan bahwa inovasi ini lahir dari keinginan untuk memutus rantai kecelakaan yang sering melibatkan pengendara baru yang kurang pengalaman. Kursus ini menjadi jembatan emas antara teori di ruang kelas dan realitas di lapangan, menjadikan peserta lebih siap secara komprehensif. Mereka pun pergi dengan perasaan bahwa polisi adalah mitra, bukan musuh yang siap menjatuhkan nilai mereka.
Nganjuk- AKP Afandy Dwi Takdir menambahkan bahwa pendekatan ini juga menjadi sarana evaluasi internal bagi Satlantas untuk melihat kelemahan apa yang paling sering terjadi pada peserta. Dengan demikian, materi kursus dapat terus disempurnakan agar relevan dengan tantangan terkini di jalan raya Nganjuk. Program Polantas Menyapa ini tidak hanya menciptakan pengendara yang lulus ujian, tetapi juga membangun kepercayaan publik bahwa Polri hadir untuk mendidik dan melindungi. Ketika pelayanan tidak berhenti di meja pendaftaran, yang terbentuk adalah ekosistem lalu lintas yang lebih sadar, tertib, dan berperikemanusiaan di seluruh Kabupaten Nganjuk. (Avs)
.jpeg)