Desa Gejakan, Nganjuk, Kamis (16/4/2026) menjadi saksi lahirnya revolusi hijau yang tidak diumumkan dengan spanduk atau upacara besar. Bripka Guntur Wahyudi, Bhabinkamtibmas Polsek Loceret, memantau lahan Pekarangan Pangan Bergizi (P2B) yang telah disulap menjadi pabrik bibit rumahan untuk cabai, terong, dan seledri. Setiap polybag adalah mesin produksi kecil yang jika dikelola dengan benar bisa menghasilkan keuntungan berlipat bagi keluarga yang mengelolanya.
Bripka Guntur tidak hanya memantau, tetapi juga menghitung potensi ekonomi dari setiap bibit yang dihasilkan. Ia menunjukkan kepada warga bahwa satu bibit cabai yang sehat bisa menghasilkan puluhan buah, yang jika dijual di pasar lokal bisa menambah pendapatan keluarga secara signifikan. Warga yang awalnya hanya berpikir untuk konsumsi sendiri, kini mulai membayangkan skala yang lebih besar: menjual bibit ke tetangga atau bahkan ke pasar desa.
AKBP Suria Miftah Irawan menyebut program ini sebagai langkah strategis dalam membangun ketahanan pangan berbasis ekonomi kerakyatan. "Kami ingin setiap pekarangan tidak hanya menghasilkan sayur untuk dimakan, tetapi juga menghasilkan uang untuk kesejahteraan," ujarnya. Pihaknya mendukung penuh jika warga Gejakan ingin memperluas program ini menjadi usaha bersama yang dikelola oleh kelompok tani desa.
AKP Triyono menambahkan bahwa revolusi hijau ini akan terus dipantau perkembangannya, dengan target jangka panjang menjadikan Gejakan sebagai desa percontohan untuk program P2B di seluruh Nganjuk. Bripka Guntur diinstruksikan untuk mendokumentasikan setiap tahapan, dari pembibitan hingga panen, agar ilmunya bisa dibagikan ke desa-desa lain. Pada akhirnya, pekarangan kosong bukan lagi pemandangan yang memalukan, tetapi menjadi kebanggaan karena setiap sudutnya berfungsi sebagai pabrik kehidupan yang dikelola oleh keluarga dan didampingi oleh polisi yang visioner.(Avs)
