Di tengah wacana besar tentang swasembada pangan nasional, Polres Nganjuk memilih untuk memulai dari hal yang paling kecil: pekarangan rumah warga. Pada Selasa (21/4/2026), BRIPKA Mahendra Aris, Bhabinkamtibmas Desa Kedungombo, menjadi garda terdepan dengan memperkenalkan metode vertikultur. Teknik bercocok tanam vertikal ini memungkinkan keluarga dengan lahan terbatas sekalipun untuk menghasilkan sayuran bergizi. Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan menyebut ini sebagai langkah konkret mendukung program ketahanan pangan dari level desa. "Kami tidak bisa menunggu kebijakan besar dari pusat. Kami harus bergerak dengan apa yang kami miliki," tegasnya.
Dari perspektif seorang kader PKK yang hadir dalam pendampingan, vertikultur adalah program yang mudah diadopsi karena tidak memerlukan perubahan drastis pada tata ruang rumah. Ia berencana untuk menyebarluaskan metode ini ke sepuluh rumah tangga lainnya dalam waktu satu bulan. Kapolsek Warujayeng Kompol H. Ahmad Junaedi mendukung penuh rencana tersebut dan berjanji akan menyediakan bibit sayuran gratis untuk tahap awal. "Kami tidak ingin biaya menjadi hambatan. Selama warga mau belajar dan berusaha, kami akan dukung," ujarnya. BRIPKA Mahendra dalam sesi pendampingannya juga mengajarkan cara membuat media tanam dari limbah rumah tangga, sehingga biaya awal hampir nol rupiah.
Selain aspek teknis, BRIPKA Mahendra juga menyentuh aspek psikologis: berkebun terbukti dapat mengurangi stres dan meningkatkan kebahagiaan. Ia menceritakan pengalaman pribadinya bahwa merawat tanaman setiap pagi memberinya ketenangan sebelum memulai tugas kepolisian yang sering kali menegangkan. Warga yang mendengar tersenyum dan mulai tertarik, tidak hanya karena hasil panennya, tetapi juga karena manfaat mentalnya. Pesan keamanan juga disampaikan dengan cara yang tidak terduga: "Tanaman yang sehat mencerminkan lingkungan yang aman. Jika pekarangan kita terawat, maka orang-orang berniat jahat akan berpikir dua kali untuk mendekat." Ini adalah cara brilian untuk menghubungkan ketahanan pangan dengan keamanan lingkungan.
Kegiatan pada Selasa (21/4/2026) ini mungkin tidak menghasilkan berita utama, tetapi dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari warga Kedungombo sangat nyata. Polres Nganjuk membuktikan bahwa swasembada pangan bukanlah proyek yang harus menunggu anggaran triliunan rupiah atau teknologi canggih. Cukup dengan pipa bekas, bibit sayuran, dan semangat gotong royong yang dipantik oleh seorang Bhabinkamtibmas yang kreatif. Dan ketika setiap desa di Nganjuk memiliki cerita seperti Kedungombo, maka ketahanan pangan nasional akan tumbuh dari ribuan pekarangan sempit, satu dinding hijau pada satu waktu. Itulah kekuatan dari inovasi yang tidak pernah berhenti pada wacana, tetapi terus bergerak ke akar rumput.(Avs)
