Lahan Kritis di 14 Kecamatan Trenggalek Disulap Polres Jadi Hutan Mini Beringin untuk Cegah Longsor


Tanah longsor dan kekeringan adalah dua masalah lingkungan yang silih berganti menghantui masyarakat Trenggalek setiap tahun. Di musim hujan, sejumlah desa di daerah perbukitan harus waspada terhadap ancaman tanah longsor yang bisa merenggut nyawa dan harta benda. Di musim kemarau, giliran desa-desa di dataran rendah yang mengeluh karena sumur-sumur mereka mengering dan sawah-sawah mereka meretak karena kekurangan air. Polres Trenggalek Polda Jatim tampaknya tidak ingin terus-menerus menjadi penonton dari siklus bencana tahunan ini. Pada peringatan Hari Bumi sedunia, mereka mengambil langkah nyata dengan menanam 200 pohon beringin di lahan-lahan kritis yang tersebar di 14 kecamatan. Pohon beringin dipilih bukan tanpa alasan, karena pohon ini memiliki kemampuan ganda: mencegah longsor sekaligus menyimpan air.

Kapolres Trenggalek AKBP Ridwan Maliki menjelaskan bahwa mekanisme kerja pohon beringin dalam mencegah longsor sangat jelas dan sudah terbukti secara ilmiah. Akar beringin yang kuat dan menjalar ke berbagai arah berfungsi sebagai jaring pengikat butiran-butiran tanah sehingga tidak mudah hanyut saat diguyur hujan deras. Di daerah perbukitan yang tanahnya labil, keberadaan pohon beringin bisa menjadi perbedaan antara hidup dan mati bagi warga yang tinggal di bawah tebing. Selain itu, pohon beringin juga memiliki tajuk yang lebar dan rimbun sehingga mampu memecah butiran air hujan sebelum jatuh ke tanah, mengurangi daya rusak air terhadap permukaan tanah. Itulah sebabnya AKBP Ridwan memilih pohon beringin sebagai senjata utama untuk melindungi Trenggalek dari ancaman longsor dan kekeringan yang datang silih berganti.

Salah satu lokasi yang menjadi prioritas penanaman adalah puncak Bukit Margo Esis di Kelurahan Surodakan. Daerah ini dikenal sebagai salah satu titik tertinggi di Trenggalek dengan kemiringan tanah yang cukup curam. Jika tidak ada tanaman keras yang mengikat tanah, bukan tidak mungkin suatu saat nanti bukit ini akan longsor dan mengubur pemukiman yang ada di bawahnya. Di lokasi ini, AKBP Ridwan bersama jajarannya menanam 6 batang beringin dengan jarak tanam yang telah diatur agar tidak saling berebut nutrisi. Ia mengaku terinspirasi oleh perjuangan Mbah Sadiman di lereng Lawu yang berhasil menyulap kawasan gersang menjadi hutan yang rimbun dan penuh mata air. "Jika Mbah Sadiman bisa melakukannya puluhan tahun yang lalu, saya yakin kita semua juga bisa di Trenggalek," ujar Kapolres penuh optimisme.

Dengan total 200 beringin yang tersebar di 14 kecamatan, Polres Trenggalek berharap akan muncul setidaknya 200 titik resapan air baru dalam 10 hingga 30 tahun ke depan. Setiap pohon beringin yang tumbuh besar akan menjadi pabrik air miniaturnya sendiri, menyerap air di musim hujan dan melepaskannya di musim kemarau. Untuk jangka pendek, pohon-pohon ini juga berfungsi sebagai penguat tanah yang bisa mencegah longsor, terutama di daerah-daerah perbukitan yang rawan bencana. Tentu saja semua manfaat ini hanya akan terwujud jika pohon-pohon beringin yang baru ditanam tersebut bisa tumbuh dengan baik dan dirawat secara berkelanjutan. Polres Trenggalek berkomitmen untuk tidak hanya menanam, tetapi juga memantau pertumbuhan pohon-pohon tersebut secara berkala. Karena pada akhirnya, aksi menanam pohon tanpa perawatan hanyalah sebuah ritual kosong yang tidak akan membawa perubahan apa pun bagi bumi yang semakin tua dan lelah ini. Namun dengan kerja sama antara polisi, pemerintah desa, dan masyarakat setempat, 200 beringin di 14 kecamatan itu bukanlah mimpi yang mustahil untuk menjadi kenyataan hijau di masa depan Trenggalek.(Avs)

AVSHALOM GROUP

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama