Gelaran seminar nasional Polda Jawa Timur di Surabaya pada Senin (27/4/2026) mengusung tema "Membangun Kesadaran dan Aksi Nyata Menghapus Kekerasan Seksual Berbasis Relasi Kuasa" dan menjadi momentum bagi Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto untuk menyampaikan pesan mendasar: bahwa penegakan hukum sejatinya adalah langkah terakhir ketika luka sudah terjadi, sementara pencegahan adalah cara utama membangun peradaban yang lebih baik. Di hadapan peserta yang terdiri dari akademisi, psikolog, tokoh pemuda, komunitas sosial, serta jajaran kepolisian, Kapolda menjelaskan bahwa Polda Jatim kini menjalankan dua inovasi fundamental, yakni sistem penanganan terpadu lintas sektor dan inovasi preventif melalui pendidikan. "Dunia saat ini menuntut institusi keamanan untuk tidak hanya mahir dalam pengejaran fisik pelaku kejahatan, tetapi juga cerdas dan empatik dalam memahami trauma korban," ujar Irjen Nanang.
Sepanjang tahun 2026 yang baru berjalan empat bulan, Direktorat PPA dan PPO Polda Jatim telah menangani 97 laporan polisi, dengan 67 laporan diterima pada tahun 2026 dan 27 perkara berhasil diselesaikan hingga tuntas. Kapolda menegaskan bahwa di balik angka-angka tersebut ada nyawa dan martabat yang sedang diperjuangkan, termasuk dalam kasus-kasus menonjol seperti kekerasan seksual terhadap atlet nasional, perlindungan kelompok rentan, pemulangan pekerja migran dari Timur Tengah yang menjadi korban perdagangan orang, hingga pembongkaran sindikat pornografi online anak di bawah umur. Namun ia juga mengingatkan bahwa Polda Jatim tidak bisa memenangkan perang melawan kekerasan seksual sendirian; dibutuhkan gerakan kolektif yang dimulai dari unit terkecil masyarakat yaitu keluarga dan sekolah, tempat di mana nilai-nilai kesetaraan dan penghormatan terhadap tubuh diajarkan sejak dini.
Dalam inovasi preventifnya, Polda Jatim telah menyusun modul khusus bagi guru agar mampu mendeteksi dini tanda-tanda kekerasan seksual, bullying, serta bahaya pornografi di lingkungan sekolah, karena guru adalah kader terdepan yang setiap hari berinteraksi dengan anak-anak. "Jika guru kuat, maka benteng perlindungan anak-anak kita akan kokoh," tegas Kapolda, seraya menambahkan bahwa modul ini akan didistribusikan ke sekolah-sekolah di seluruh Jawa Timur melalui koordinasi dengan Dinas Pendidikan. Sementara itu, sistem penanganan terpadu yang melibatkan DP3AK, Dinas Sosial, lembaga perlindungan perempuan dan anak, hingga komunitas difabel, dirancang untuk memastikan bahwa tidak ada korban yang jatuh di antara celah-celah birokrasi, dan setiap laporan mendapatkan respons yang cepat, tepat, dan berperspektif korban.
Menutup seminar yang berlangsung penuh antusiasme, Kapolda Jatim mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali menguatkan semangat gotong royong dalam perlindungan masyarakat, karena keamanan sejati bukan hanya ketika polisi hadir, tetapi ketika setiap individu merasa dilindungi oleh lingkungannya. "Keamanan sejati adalah ketika kelompok yang paling lemah sekalipun merasa aman di tengah masyarakat. Mari kita wujudkan Jawa Timur yang zero tolerance terhadap kekerasan seksual," pungkas Irjen Nanang Avianto, meninggalkan pesan yang menggema di ruang seminar dan menjadi komitmen bersama untuk diimplementasikan di lapangan. Polda Jatim berjanji akan terus memantau dan mengevaluasi efektivitas dua inovasi ini, serta membuka ruang bagi masukan publik untuk perbaikan berkelanjutan. (Avs)
.jpeg)
