Hanya butuh dua jam pada Kamis pagi, 9 April 2026, untuk menentukan nasib 64 personel Polres Nganjuk terkait hak mereka membawa senjata api. Di Aula Tantya Sudhirajati, mereka menjalani tiga tahap pemeriksaan: tes fisik yang cepat, tes urin yang menusuk, dan tes MMPI yang menguras pikiran. Bagi yang lolos, senpi tetap aman di pinggang. Bagi yang tidak, hak istimewa itu akan dicabut, setidaknya sampai mereka dinyatakan sehat kembali. Dua jam yang singkat, tapi dampaknya bisa mengubah karier seseorang sekaligus menyelamatkan nyawa orang lain.
Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan menyebut pemeriksaan ini sebagai bentuk cinta institusi kepada personel dan masyarakat. "Kami tidak ingin anggota kami celaka karena penyakit yang tidak terdeteksi, atau membuat orang lain celaka karena ketidakstabilan mental. Maka pemeriksaan ini adalah filter yang harus dijalani dengan kesadaran penuh," ujarnya. Tes fisik di Polres Nganjuk dipandu oleh perawat berpengalaman yang memeriksa tensi, nadi, pernapasan, dan refleks. Tes urin dilakukan dengan sistem tertutup, di mana personel memberikan sampel ke dalam botol yang sudah diberi kode, bukan nama.
Iptu dr. Galih Bayu Prakoso menjelaskan bahwa tes MMPI membutuhkan konsentrasi tinggi karena ada pertanyaan yang diulang dengan formulasi berbeda untuk mengecek konsistensi jawaban. "Jika seseorang berbohong, skala kebohongannya akan naik dan kami bisa mendeteksinya. Tidak ada yang bisa lolos dengan berpura-pura baik. Tes ini jujur, bahkan ketika peserta berusaha tidak jujur," jelasnya. Setelah dua jam, semua lembar jawaban dikumpulkan dan akan dianalisis dalam tiga hari ke depan. Hasilnya akan diumumkan secara tertutup kepada masing-masing personel dan Kapolres.
Penutup dari dua jam yang menentukan ini adalah tentang efisiensi dan ketegasan. Polres Nganjuk membuktikan bahwa pemeriksaan kelayakan senpi tidak perlu berhari-hari. Cukup dua jam dengan prosedur yang tepat, semua bisa terukur. Masyarakat Nganjuk tidak perlu tahu siapa yang lolos dan siapa yang tidak. Yang penting, setelah Kamis itu, setiap polisi bersenjata yang berpatroli adalah mereka yang sudah teruji, baik fisik maupun jiwanya. Dua jam pengorbanan untuk ketenangan ribuan warga. Itulah harga yang pantas dibayar. (Avs)
