Pemantauan pasar jelang Idul Fitri yang dilakukan Satgas Saber Pangan Pusat di Jawa Timur tidak hanya berhenti pada sekadar mencatat harga di lapak pedagang. Lebih dari itu, tim yang dipimpin Brigjen Pol Zain Dwi Nugroho ini berusaha menggali akar masalah dengan turun langsung ke sumbernya: para petani dan peternak. Mulai dari Pasar Wonokromo di Surabaya, tim bergerak menuju lahan cabai di Kecamatan Kepung, Kediri, untuk melihat sendiri tantangan yang dihadapi produsen.
Dari hasil penelusuran, ditemukan bahwa keluhan utama petani cabai adalah faktor cuaca. Tingginya curah hujan menyebabkan gagal panen akibat serangan jamur fusarium dan hama lalat buah, sehingga produksi mereka merosot tajam. Seorang petani bahkan hanya bisa panen 30-50 kilogram sekali petik, padahal biasanya bisa mencapai lebih banyak. Kondisi inilah yang kemudian memicu harga cabai rawit merah di pasaran melonjak hingga Rp100.000 per kilogram, sebuah ironi di tengah stabilnya harga komoditas lain.
Menanggapi hal ini, Satgas tidak hanya memberikan rekomendasi jangka pendek, tetapi juga jangka panjang. Brigjen Zain mendorong adanya pembangunan sumur bor dan sistem irigasi agar lahan pertanian tidak bergantung sepenuhnya pada musim. Dengan infrastruktur yang memadai, petani bisa menanam cabai dua kali setahun sehingga pasokan lebih stabil. Selain itu, pemerintah juga didorong untuk memfasilitasi distribusi pangan dari daerah sentra agar biaya transportasi tidak membebani harga akhir di tingkat konsumen. (Avs)
.jpeg)
