Ada formula baru yang ditemukan Polres Nganjuk untuk memerangi kerawanan pangan, yaitu kombinasi antara teknologi bioflok dan kedekatan emosional Bhabinkamtibmas. Di Desa Malangsari, formula itu diuji coba dan hasilnya cukup manis. Warga yang didampingi Brigpol Agung Pamuji mulai panen perdana ikan nila dan lele dari kolam terpal mereka.
Sistem bioflok dipilih karena solutif untuk problem klasik petani ikan: keterbatasan air dan lahan. Dengan teknologi ini, air tidak perlu diganti berbulan-bulan karena limbah organik langsung diurai oleh bakteri menjadi protein yang bermanfaat. Warga pun tak perlu pusing memikirkan pakan tambahan yang mahal, karena ikan sudah "disuapi" oleh flok-flok mikroorganisme di dalam kolam.
Kompol Ahmad Junaedi, Kapolsek Warujayeng, menegaskan bahwa peran Bhabinkamtibmas di sini adalah sebagai katalisator. Mereka memastikan warga tidak berjalan sendirian dalam mengadopsi teknologi baru ini. Dari urusan pemasaran bibit hingga solusi saat ikan mulai lesu, Bhabinkamtibmas siap menjadi garda terdepan yang membantu.
Kapolres AKBP Suria Miftah Irawan pun berharap model pendampingan seperti ini bisa direplikasi di desa-desa lain. Ia percaya, ketika polisi bisa menjadi jembatan antara inovasi teknologi dan kebutuhan warga, maka ketahanan pangan bukan lagi slogan, melainkan kenyataan yang bisa diraup dari pekarangan sendiri. (Avs)
