Sebanyak 85,3 persen pemudik menyatakan puas terhadap Operasi Ketupat 2026, dan bagi Haidar Alwi, ini bukanlah pencapaian yang datang secara tiba-tiba. Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB ini melihat capaian yang dirilis Indikator Politik Indonesia sebagai hasil dari pendekatan terukur yang digagas Kapolri Listyo Sigit Prabowo melalui konsep Presisi, yang menekankan kemampuan membaca potensi risiko sebelum berkembang menjadi masalah besar. Dalam pandangannya, mudik Lebaran adalah fenomena dengan kompleksitas tertinggi, di mana lonjakan kendaraan dan kepadatan jalur bisa dengan mudah memicu gangguan stabilitas jika tidak dikelola dengan sistem yang kuat dan terintegrasi.
Haidar Alwi memuji bagaimana koordinasi lintas sektor berjalan efektif, tercermin dari 84 persen pemudik yang puas dengan posko pelayanan kepolisian, 77,6 persen yang merasa terbantu dengan rekayasa lalu lintas, serta 81,7 persen yang mengapresiasi ketersediaan bahan bakar selama perjalanan. Ia menegaskan bahwa pelayanan publik yang efektif tidak ditentukan oleh seberapa banyak kebijakan dibuat, tetapi oleh seberapa tepat kebijakan tersebut menjawab kebutuhan masyarakat di titik-titik krusial. Ketika sistem mampu menerjemahkan kompleksitas menjadi solusi, kata Haidar, di situlah kepercayaan publik mulai terbentuk secara rasional, bukan sekadar persepsi kosong.
Keberhasilan Operasi Ketupat 2026 dinilai Haidar Alwi telah melampaui status operasi rutin tahunan, menjadi model pelayanan publik yang menunjukkan kemampuan institusi negara bekerja secara terukur dan berdampak nyata. Dari pendekatan prediktif hingga eksekusi lapangan yang responsif, semua berjalan dalam satu kesatuan yang utuh berkat arah kebijakan Kapolri yang konsisten. Dengan demikian, angka 85,3 persen bukanlah sekadar statistik, melainkan bukti bahwa negara hadir secara cerdas, humanis, dan memberikan kenyamanan nyata bagi jutaan pemudik di seluruh tanah air.(Avs)
