Surabaya- Tak disangka, sebuah apartemen di Surabaya yang menjadi tempat persembunyian empat warga Afrika justru menjadi pintu masuk bagi Polda Jawa Timur untuk membongkar sindikat love scamming internasional yang telah beroperasi selama hampir setahun. Kolaborasi antara Ditressiber Polda Jatim, Imigrasi Jawa Timur, dan Polresta Sidoarjo berhasil mengamankan tiga tersangka, yakni LNHA warga Indonesia, KKP asal Ghana, dan AYV dari Pantai Gading, serta menyita sejumlah handphone, kartu SIM, dan perangkat elektronik lainnya yang menjadi senjata utama mereka dalam merayu korban.
Surabaya- Penyelidikan berawal dari laporan terkait pelanggaran izin tinggal, namun ketika petugas melakukan pengecekan, mereka menemukan bukti-bukti yang mengarah pada praktik penipuan siber dengan modus percintaan yang menyasar perempuan berusia 45 hingga 60 tahun. Para pelaku membangun hubungan emosional melalui media sosial dengan berpura-pura sebagai pria mapan di luar negeri, lalu mengirim pesan palsu tentang hadiah mahal yang tertahan di bea cukai dan meminta korban mentransfer uang untuk biaya pengiriman, padahal semua itu hanyalah skenario fiktif untuk menguras isi rekening korban.
Surabaya- Dalam jaringan ini, LNHA memiliki peran ganda yang cukup licik: sebagai admin yang mengelola komunikasi dengan korban dan sebagai pemegang rekening penampung yang menerima seluruh hasil kejahatan, sekaligus berpura-pura menjadi petugas ekspedisi yang menagih biaya tebusan. Dengan skema pembagian 65 persen untuk pelaku utama dan 30 persen untuk lainnya, sindikat ini berhasil mengumpulkan Rp1,1 miliar dari 53 korban di seluruh Indonesia, dengan 22 di antaranya dari Jawa Timur, angka yang masih mungkin bertambah seiring pendalaman yang terus dilakukan.
Surabaya- Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Jules Abraham Abast mengapresiasi kerja sama antarinstansi yang menjadi kunci pengungkapan ini, sementara Dirressiber Kombes Pol Bimo Ariyanto menegaskan bahwa pengembangan penyidikan terhadap jaringan lain terus berjalan intensif bersama Imigrasi. Masyarakat diimbau untuk tidak mudah tergiur dengan rayuan di dunia maya dan segera melapor jika menemukan indikasi penipuan serupa, karena di era digital ini, cinta yang datang dari layar ponsel tak selalu membawa kebahagiaan, tapi bisa jadi justru membawa petaka bagi keuangan dan hati.(Avs)
.jpeg)